Karya Ilmiah /Artikel yang Memperkenalkan Sisi Pekanbaru
Sejarah Pekanbaru, sebagai objek kajian terbilang langka dan kurang dinamis. Langka karena tidak banyak yang melakukan kajian sejarah Pekanbaru, setelah Prof. Suwardi MS, Wan Ghalib dan kawan-kawan menyusun Dari Kebatinan Senapelan ke Bandaraya Pekanbaru (2006). Ada artikel terkait dengan Senapelan, tetapi lebih pada kajian tata ruang dan studi perkotaan (Firzal, 2015), arsitektur (Rika Cheris dan Repi, 2017), dan studi tentang kawasan cagar budaya, tetapi tidak didekati dengan ilmu sejarah (Sri Sugiharta dan Agustri Mulyono, 2017). Sejumlah peninggalan sejarah di Pekanbaru juga dibahas dalam kaitan pemanfaatan peninggalan bersejarah untuk ekoeduwisata (Wilaela, 2018). Umumnya kajian tentang Pekanbaru yang menampilkan gambaran sejarah Pekanbaru hanya membahas tentang tata ruang dan perkotaan serta perkembangan kondisi kekinian masyarakat.
Jadi, Pekanbaru, dalam kajian sejarah, tidak sebanyak kajian aspek atau disiplin ilmu lainnya. Sekalipun Pekanbaru merupakan kota tua lebih dari 200 tahun, tetapi sejarahnya langka. Kemungkinan karena di kampus- kampus yang lumayan banyak di Pekanbaru dan sekitarnya, tidak ada program studi Ilmu Sejarah atau Sejarah Peradaban Islam. Ada kajian akademis tentang sejarah sebagai bagian dari ilmu paedagogik pada program studi pendidikan sejarah di Universitas Riau. Namun, hal ini belum cukup membuat aspek kesejarahan Kota Bertuah ini menjadi objek kajian favorit.
Salah satu dari yang sedikit itu adalah riset dan publikasi berjudul Dari Batin Senapelan ke Bandaraya Pekanbaru, karya Suwardi MS, Wan Ghalib, Isjoni, dan kawan-kawan. Diterbitkan pada tahun 2006 atas kerjasama MSI Riau dan Pemko Pekanbaru. Salah seorang penulis, yaitu Wan Ghalib, adalah saksi sejarah untuk periode Kerajaan Siak hingga dua kekade setelah Provinsi Riau berdiri. Pada dasarnya, para penulis sejarah Pekanbaru akan menjadikan karya ini sebagai referensi utama. Begitu pun dalam penelitian ini, karya tersebut dimanfaatkan sebagai referensi untuk lata belakang sejarah Pekanbaru pada abad ke-20.
Karya lainnya berupa artikel dalam Jurnal Local Wisdom–Jurnal Ilmiah Online tahun 2011. yang ditulis oleh Yohanes Firzal berjudul “Tipologi Bangunan Tua”. Penulis yang sama juga menulis di Jurnal Indonesia (Newvastle University) tahun 2015 tentang “Reconstructing socio-cultural identity: Malay culture and architecture in Pekanbaru”. Kedua artikel ini lebih ke kajian arsitektur disain bangunan dan interaksinya dengan lingkungan di Pekanbaru. Kajian ini menarik, ada bersinggungan dengan penelitian ini, terutama terkait bangunan peninggalan Haji Sulaiman. Oleh karena itu, pendekatan disain bangunan pada bangunan tua di Pekanbaru akan dimanfaatkan untuk memperkaya analisis sejarah budayanya. Sekalipun demikian, artikel ini berbeda dengan apa yang menjadi fokus penelitian kami, yaitu aspek-aspek kemanusiaan dalam sejarah sosial dalam bentuk biografi seorang tokoh di Pekanbaru pada paroh pertama abad ke- 20.
Artikel lainnya yang membahas tentang arsitekrur khusus Kampung Bandar di Senapelan ditulis oleh Rika Cheris dan Refi pada tahun 2017 berjudul “Faktor-Faktor Memudarnya Citra Kampung Bandar Senapelan (Tinjauan Terhadap Nilai Sejarah dan Arsitektur Tradisional sebagai Indentitas Kota Pekanbaru”. Artikel ini membantu menguatkan gambaran tentang perekonomian di Pekanbaru pada paroh tertama abad ke-20. Bedanya dengan penelitian ini adalah artikel dalam Jurnal Arsitektur Melayu dan Lingkungan ini tidak membahas tentang tokoh-tokoh pedagang yang berhubungan dengan Bandar tersebut. Sementara penelitian ini menjelaskan Bandar Senapelan berdasarkan pengalaman pribadi, terutama Haji Sulaiman.
Karya dengan tema yang agak mirip dengan Yohanes Firzal, yaitu tentang bangunan tua di Senapelan adalah artikel karya Sri Sugiharta dan Agoes Tri Mulyono, berjudul “Warisan Arkeologi Perkotaan di Kawasan Bandar Senapelan”. Karya ini terbit tahun 2017 dalam kumpulan tulisan berjudul Sumatera Silang Budaya: Kontestasi Nilai-Nilai Historis, Arkeologis dan Antropologis serta Upaya Pelestarian Cagar Budaya, dengan editor Sri Sugiharta. Sekalipun perpektif arkeologis, artikel tersebut akan menjadi referensi untuk membantu mengisi kekosongan narasi dari sumber lisan. Berbagai informasi tentang bangunan, jalan, dan kondisi daerah di pinggir Sungai Siak membantu peneliti untuk memahami (verstehen) kondisi Pekanbaru masa lalu.
Buku lain yang mengunkapkan tentang Pekanbaru adalah penelitian yang sifatnya dasar dan merupakan penulisan yang menggabungkan berbagai sejarah daerah Riau, yaitu buku Sejarah Riau yang disusun pada tahun 1970 oleh Suwardi MS dkk dan editor oleh Mukhtar Lutfi dkk. Buku yang terbit pertama kali tahun 1977 oleh pemda Riau ini merupakan buku “babon” dalam historiografi Riau modern. Buku ini bercerita tentang sejarah Riau dari masa awal, yaitu zaman batu hingga abad ke-20. Arti penting buku ini adalah pada fungsinya yang menjadi referensi hampir semua karya penulisan sejarah di Riau.
Selain sebagai buku babon, juga faktor sumbernya umumnya tergolong sumber primer untuk kasus-kasus dan bagian-bagian tertentu, termasuk Pekanbaru, maka buku Sejarah Riau akan dimanfaatkan sebagai referensi dasar dan standar untuk penelitian dan penyusunan sejarah Pekanbaru. Sejarah Riau dapat dianggap panggung tempat berbagai peristiwa sejarah Pekanbaru separoh pertama abad ke-20 dipentaskan. Perbedaan karya tersebut dengan penelitian ini cukup nyata, terutama dari pendekatan. Sejarah Riau tidak mengupas panjang lebar tentang sejarah sehari-hari dalam sosial-budaya dan politik di daerah Pekanbaru, sementara penelitian ini ingin menguraikan kondisi sosial-budaya dan ekonomi berdasarkan pengalaman kehidupan sehari-hari tokoh Haji Sulaiman. Arti penting referensi ini dikaitkan dengan penelitian ini adalah sebagai adanya upaya nyata membangun dinamika penulisan sejarah Riau, karena the real history is the contemporary history. Penulisan sejarah yang bersifat dinamis itu memerlukan pendekatan interdisipliner dengan sentuhan present mindedness.
Prof. Suwardi MS dan Kamaruddin juga menyusun buku berjudul Sejarah Lokal Riau, terbit di Pekanbaru pada tahun 2014, ada memuat tentang Pekanbaru. Buku ini walaupun dipublish belum lama ini, namun sebagian besar isinya diadaptasi dari Sejarah Riau. Ini dimungkinkan karena penulis utama Sejarah Lokal Riau, Prof. Suwardi MS, merupakan salah seorang penulis utama Sejarah Riau. Dalam Sejarah Lokal Riau dipaparkan tentang sejarah daerah-daerah di Riau yang dapat dijadikan bahan pelengkap informasi sumber lisan yang akan digali dari keturunan Haji Sulaiman dan masyarakat.
Suatu karya yang berbeda tetapi dirasakan perlu dalam penelitian ini adalah sejarah tentang keluarga, yang ditulis oleh Oscar Lewis berjudul Five Families, Mexican Case Studies in the Culture of Poverty, pada tahun 1988. Buku yang bercerita tentang sejarah lima keluarga miskin di Meksiko ini mampu menjelaskan secara antropologis tentang kebudayaan kemisikinan. Melalui sejarah keluarga, berbagai kegetiran dan keluhan, harapan, impian dan kecintaan masyarakat terhadap kota (dan pemimpinnya) dapat diketahui. Sehingga, sejarah tampil lebih humanis karena mengangkat aspek kemanusiaan. Pengungkapan aspek kemanusiaan pada masa sekarang menjadi penting, tatkala aspek tersebut mulai memudar di tengah kehidupan kota besar yang individual. Buku ini dapat digunakan dalam penerapan metode pengumpulan data (heuristik) dengan pendekatan antropologi dan untuk membantu membangkitkan art of writing dalam historiografi.
Demikian beberapa karya ilmiah, baik berbentuk artikel maupun jurnal, yang direview untuk rencana penelitian ini. Untuk referensi karya ini, dipaparkan di bagian Daftar Kepustakaan. Untuk pemanfaatan dokumen, ada yang dituangkan langsung dalam teks dan ada yang diberi penjelasan di bagian catatan kaki.

Komentar
Posting Komentar